Penjara Bernama Panti Asuhan

05201505251040214951bersama-anak-panti-asuhan-dorkas.JPG

I’m nobody’s child, I’m nobody’s child

Just like a flower I’m growing wild

No mommy’s kisses and no daddy’s smile

Nobody wants me, I’m nobody’s child..

(Karen Young, Nobody’s Child)

 

Nama Panti Asuhan belakangan ini ramai dibicarakan terkait kasus kekerasan yang menimpa anak-anak asuh di Panti Asuhan Samuel, Gading Serpong, Tangerang, Banten. Sebagaimana diberitakan berbagai media, Panti Asuhan Samuel menjadi sorotan akibat sejumlah anak asuhnya kabur. Mereka yang kabur mengatakan tidak betah tinggal di sana karena kerap disakiti dan diperlakukan tidak layak, seperti diberi makan makanan basi dan dipukuli.

Tulisan ini tidak menyoroti kasus tersebut secara spesifik, melainkan mencoba memahami akar persoalan panti asuhan secara umum, dan relevansi keberadaannya di masa kini. Saya  teringat pengakuan Jusuf Talib, SH, politisi senior Partai Golkar yang pernah menjadi pejabat tinggi Depsos dan menangani urusan panti asuhan. Ia mengaku bahwa pandangannya tentang panti asuhan yang ideal, berubah setelah sering keluar masuk rumah-rumah panti dan membandingkan satu panti dengan yang lainnya di berbagai daerah. Ternyata, simpulnya, ada pola yang sama dalam pembinaan panti asuhan di masa sekarang, yaitu modernisasi bangunan panti dan “penarikan diri” dalam pembinaan anak-anak asuhnya. Anak-anak yatim yang diasuh di panti-panti asuhan sekarang berada dalam keadaan tertutup, meskipun mereka hidup dalam bangunan yang relatif bagus dan modern. Mereka terbuka hanya saat sekolah, tapi di dalam pantinya sendiri tertutup, mereka bergaul hanya dengan anak-anak yatim yang di dalam panti itu.

Kondisi panti-panti asuhan sekarang berbeda dengan kondisi panti asuhan di masa lalu di mana terdapat proses penyatuan dengan lingkungan di sekitarnya. Dampak psikologisnya dalam arti positif lebih besar untuk anak-anak yatim yang tempat tinggalnya sekaligus menjadi tempat bergaul dengan anak-anak luar. Atau mereka sendiri bergaul dengan anak-anak di luar panti. Sekarang panti-panti asuhan cenderung tertutup, anak-anak yatim tidak boleh bergaul di luar atas nama disiplin.

Pemewahan panti asuhan dari segi bangunan, perbaikan jaminan makan, dsb, bukan merupakan ukuran untuk memandirikan anak-anak yatim itu dengan percaya diri yang kuat, karena dia merasa punya dunia sendiri, dipisahkan dengan dunia luar. Sebenarnya itu adalah konsep panti asuhan yang dilahirkan oleh negara-negara Barat. Menurut Jusuf Talib, ironis bahwa kita berlomba-lomba menerapkan konsep itu padahal di negara-negara Barat sendiri sudah ditinggalkan.

Entah bagaimana mulanya konsep panti asuhan semacam itu bisa diadaptasi di sini, termasuk oleh panti-panti asuhan Islam. Padahal, konsep semacam itu tidak dikenal dalam Islam. Masih menurut Jusuf, konsep Islam itu sebenarnya bukan panti tapi asuhan keluarga. Rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang di dalamnya terdengar tawa dan tangisnya anak yatim. Tapi anehnya, ujar dia, ajaran Rasulullah tentang pola asuh keluarga itu ditinggalkan oleh orang-orang Islam dan sekarang justru dikembangkan di Barat.

Jusuf Talib menilai bahwa panti-panti asuhan sekarang ini secara tidak sadar merupakan “pemenjaraan” anak yatim. Anak-anak yang sudah kehilangan orang tua karena berbagai sebab, diberi tempat penampungan yang baru dengan tembok-temboknya yang menghalangi mereka berinteraksi dengan dunia luar. Mereka boleh keluar hanya pada waktu sekolah.

Tidak mudah mengubah realitas semacam itu karena rupanya telah menjadi semacam mode di dunia panti. Masalahnya bukan hanya pada panti asuhan melainkan juga masyarakat umum yang belum memiliki kesadaran untuk menjadi orang-orang tua asuh bagi anak-anak yatim. Umat Islam pada umumnya tidak perduli kepada anak-anak yang “dipenjara” di panti asuhan. Memberi bantuan finansial berupa sedekah alakadarnya sudah merasa cukup.

Jusuf juga mengeritik fenomena ormas-ormas keagamaan yang berlomba-lomba mendirikan panti asuhan anak yatim. Hal ini dipandangnya sebagai semacam pengukuhan atas praktek-praktek yang salah dalam pembinaan anak yatim. Dari sudut ajaran agama tidak tepat, dari segi prospek ke depan anak itu juga tidak terlalu menguntungkan untuk menumbuhkan kemandirian dan rasa percaya diri. Apa yang dilakukan ormas-ormas keagamaan dengan mendirikan panti-panti asuhan sebagai gerakan massal justru merugikan bagi masa depan anak-anak yatim dan sekaligus kian menjauhkan kita dari nilai-nilai Islam. “Yang lebih baik itu ya pola asuh keluarga, sebab dengan begitu anak-anak yatim itu tidak merasa menjadi kelompok anak yang menderita. Jangan lupa bahwa anak yang tumbuh dalam keyakinan dia menderita bisa menimbulkan sikap-sikap radikal,” tandasnya.

(Artikel ini dicuplik dan disunting dari salah satu chapter buku The Inner Circle: Memoar Politik Jusuf Talib (2013), yang ditulis oleh Ahmad Gaus dan diberi Kata Pengantar oleh Anies Baswedan, PhD).

 




or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?